seni hidup di saat ini
sains tentang perhatian penuh/mindfulness
Pernahkah kita duduk di sebuah kafe yang indah, memegang secangkir kopi yang harum, tapi pikiran kita malah berada di ruang rapat kantor besok pagi? Atau saat kita sedang mengobrol dengan orang tersayang, tapi mata kita diam-diam melirik layar ponsel? Saya rasa, kita semua pernah mengalaminya. Tubuh kita ada di sini, tapi pikiran kita sedang traveling entah ke mana. Secara fisik kita hadir, namun secara mental kita absen. Mengapa sangat sulit bagi kita untuk sekadar menikmati momen saat ini? Jawabannya ternyata bukan karena kita kurang bersyukur atau kurang punya fokus. Ada alasan biologis yang sangat tua dan mendalam di balik kebiasaan menyebalkan ini.
Mari kita mundur sejenak ke masa lalu. Sekitar dua ratus ribu tahun yang lalu, nenek moyang kita hidup di padang sabana yang keras. Pada masa itu, manusia purba yang hanya duduk santai menikmati keindahan terbenamnya matahari punya kemungkinan besar dimakan oleh singa peliharaan alam liar. Untuk bisa bertahan hidup, otak kita berevolusi menjadi mesin simulasi ancaman yang luar biasa. Otak dirancang untuk terus memindai bahaya. Kita diprogram untuk terus mengingat kesalahan di masa lalu agar tidak mengulanginya, dan terus mengkhawatirkan masa depan agar bisa bersiap-siap. Jadi, saat teman-teman merasa cemas memikirkan cicilan bulan depan atau susah tidur menyesali omongan bodoh minggu lalu, jangan terlalu menyalahkan diri sendiri. Itu adalah mekanisme pertahanan hidup warisan leluhur kita. Namun, ada satu masalah besar. Perangkat lunak purba ini sekarang berjalan di dunia modern yang relatif jauh lebih aman. Hasilnya? Kita terus-menerus merasa terancam oleh hal-hal yang sebenarnya belum tentu terjadi.
Di sinilah sains mulai menemukan sesuatu yang sangat menarik. Para ahli saraf menemukan bahwa saat kita tidak sedang melakukan tugas yang menuntut fokus penuh, otak kita akan otomatis menyalakan sebuah sirkuit yang disebut Default Mode Network (DMN). DMN ini ibarat mode autopilot di mana pikiran kita bebas mengembara. Di sirkuit inilah letak penyesalan, kecemasan, dan kebiasaan overthinking bermarkas. Sebuah penelitian psikologi yang sangat terkenal dari Universitas Harvard menguji fenomena ini. Psikolog Matt Killingsworth mengumpulkan data langsung dari ribuan orang melalui ponsel mereka, dan ia menemukan sebuah kesimpulan yang mengejutkan. Ia menyimpulkan bahwa pikiran yang mengembara adalah pikiran yang tidak bahagia (a wandering mind is an unhappy mind). Menariknya, orang ternyata jauh lebih bahagia saat mereka fokus melakukan pekerjaan yang membosankan, dibandingkan saat pikiran mereka melamunkan liburan yang menyenangkan. Pertanyaannya, jika sekadar melamunkan hal indah saja bisa membuat kita merasa kurang utuh dan bahagia, lalu apa rahasia sebenarnya untuk meretas sistem otak kita ini? Bagaimana cara kita mematikan mesin pembuat cemas ini?
Rahasianya ternyata bersembunyi pada seni hidup di saat ini, atau yang belakangan sangat populer dengan istilah mindfulness. Dulu, konsep ini sering dianggap sebagai hal yang terlalu spiritual, mistis, atau sekadar tren gaya hidup kaum urban. Namun, sains keras (hard science) telah membuktikan sebaliknya. Mindfulness pada dasarnya adalah ilmu pasti tentang cara menggeser persneling otak kita. Saat kita sengaja memusatkan perhatian pada apa yang terjadi tepat di detik ini—seperti merasakan dinginnya udara yang masuk ke hidung, mendengar suara detak jam, atau mengunyah makanan dengan pelan—kita sedang menyalakan sirkuit otak lain yang bernama Task-Positive Network (TPN). Hebatnya, sains menemukan bahwa TPN dan DMN ini bekerja persis seperti jungkat-jungkit. Kita tidak bisa menyalakan keduanya secara bersamaan. Artinya, saat kita benar-benar hadir di momen ini, sirkuit overthinking dan kecemasan di otak kita secara biologis terpaksa mati. Lebih menakjubkan lagi, pemindaian MRI secara konsisten menunjukkan bahwa latihan memperhatikan momen saat ini akan mengubah struktur fisik otak kita. Ketebalan prefrontal cortex (pusat logika dan ketenangan) akan bertambah, sementara amygdala (pusat rasa takut dan stres) akan menyusut. Ya, dengan belajar hadir di saat ini, kita benar-benar bisa memprogram ulang perangkat keras di dalam kepala kita.
Menyadari fakta-fakta ilmiah ini rasanya memberi kita sebuah kelegaan yang luar biasa. Ternyata, kita tidak perlu memusuhi atau melawan pikiran kita sendiri. Kita hanya perlu mengarahkannya dengan penuh empati. Seni hidup di saat ini bukanlah tentang mengosongkan pikiran hingga kita menjadi tumpul seperti robot. Ini adalah tentang menyadari kapan pikiran kita mulai berlari liar ke masa lalu atau masa depan, lalu dengan penuh kasih sayang memanggilnya pulang ke hari ini. Menit ini. Detik ini. Di sela-sela kesibukan, sesekali cobalah rasakan lantai yang kita injak. Rasakan hangatnya sinar matahari di kulit kita. Dengarkan suara-suara kecil di sekitar yang sering terabaikan. Di dunia yang terus memaksa kita untuk berlari mengejar hari esok, berani untuk diam dan benar-benar hadir di hari ini adalah sebuah pemberontakan yang indah. Mari kita nikmati kopi kita sebelum ia menjadi dingin, dan mari kita nikmati momen kehidupan kita sebelum ia berlalu begitu saja.